Sumber : Kompas Online Rabu, 8 April 2009 | 21:20 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

JAKARTA, KOMPAS.com – Keindahan dan keeksotikan alam Sumatera Barat, dengan segala potensi flora dan fauna, dan keunikan seni dan budaya, telah menjadi daya tarik wisatawan mancanegara sejak 10 tahun terakhir. Paket Green Tourism yang dikembangkan Sumatra and Beyond, sangat diminati wisatawan Eropa khususnya Inggris, di samping Amerika dan Jepang.

Direktur Utama Sumatra and Beyond, Ridwan Tulus, mengatakan, sejak 29 Maret hingga 10 April 2009 ada 12 wisatawan dan didampingi dua dosennya dari Canterbury College, Inggris, berkunjung ke Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Mereka dalam paket 12 days Sumatra a journey of discovery tidak hanya sekadar melihat kekayaan alam dan keunikan seni-budaya, tetapi juga dilibatkan dalam a ksi melestarikan lingkungan, kata Ridwan, Rabu (8/4).

Ridwan yang pernah jadi ikon pariwisata Indonesia, karena menggalakkan wisata jalan kaki di Indonesia, dan dipercaya jadi Presiden Asosiasi Wisata Jalan kaki Asia Pasifik, menjelaskan, di Sumatera Utara, mereka mengunjungi kawasan Leuser National Park untuk melihat konservasi orangutan di Bukit Lawang dan gajah di Tangkahan.

Sedangkan di Sumatera Barat, wisatawan dari Inggris itu diajak melakukan aksi penanaman terumbu karang di kawasan wisata Pulau Sikuai dan Sungai Pinang, Kota Padang. “Penanaman terumbu karang tersebut dipandu oleh Yayasan Minang Bahari yang berkonsentrasi pada marine life,” tandasnya.

Sepanjang Rabu (8/4), mereka kita ajak ke Kabupaten Pesisir Selatan untuk melihat konservasi Siamang di Pulau Marak, serta konservasi kura-kura di Pulau Garabak Ketek, sekalian melihat kura-kura bertelur pada malam hari di Pulau Penyu.

Selama 10 tahun belakangan ini, Sumatra and Benyon lebih berkonsentrasi dalam pengembangan green tourism package, sabagai salah satu tanggung jawab tour operator terhadap budaya dan lingkungan, ungkap Ridwan.

Tgl 26 Oktober, jam 09.30 WIB, aku secara mendadak ditelpon oleh teman-teman pecinta alam, yang mengatakan bahwa mereka sejumlah 30 orang sedang menanti kedatanganku di pesanggarahan Dt Suar. Sementara sehari sebelumnya, aku sendiri mencoba memastikan ke rekan-rekan muda itu, “Apakah acara kita untuk mulai mendokumentasikan Dt Suar dengan Ngalau Seribu-nya dan Sikijang Kapalo Banda Taram, sudah dapat kita lakukan besok pagI?”. Yang hingga malam itu masih tidak aku temukan jawaban pastinya. Wach … wach … memang kita-kita yang suka me – rimba ini perlu belajar kembali berkomunikasi dengan bahasa formal manusia, hehe…. karena di beberapa kejadian, komunikasi diantara kami kerap ‘mis’ atau karena sama-sama isi kepala sedang ‘blank’??. Tapi ndak apa-apa, itulah pernik-pernik kecil yang terjadi kalau yang jadi komandannya telah melampau usia 40, sedang yang lainnya masih diseputar 20 – 30 tahun. Yach … lumayan, meski sedikit terkaget-kaget, tapi toh acara hari itu tetap dapat berlangsung.

Beberapa jenak setelah aku dan sang pacar ( baca; istriku) tiba di lokasi, sambil duduk-duduk santai, acara rapat (brainstorming tepatnya) dapat kami tutup dengan kesimpulan semua pihak faham. Dan selanjutnya, kerja borongan pun aku mulai. Sebagai sutradara, aku meminta adik-adik untuk memenuhi permintaanku, scene per scene kami jalani dengan riang gembira, meski alur cerita dalam rekaman kaset handycam pun jadi mundur. Beberapa diantaranya adegan rombongan kendaraan roda dua yang bermacam-macam bentuknya, menderu-deru datang, tentunya sarat dengan penumpang tiba di pesanggrahan dan diterima oleh sang tokoh ( Dt Suar ), selanjutnya, rombongan terus kembali ke lokasi yang lebih jauh, di seputar jembatan, di muka kantor wali nagari, di air terjun wisata harau, di pintu masuk, dan di muka Echo Homestay. Berulang-ulang dan mundur makin jauh, semata untuk memenuhi kebutuhan rekam gambar yang ada di benakku, selaku sutradara dan juga penulis skenario. Hehe …. hari itu, luar biasa… meski kegiatannya dadakan, tapi semua mengalir ikhlas dan penuh rasa bahagia.

Mungkin itu yang dimaksud dengan volunteer ya? Memiliki ’sense of crisis’ untuk kemudian bergeser pada sikap peduli danselanjutnya ikut memeliki persoalan yang dipaparkan. Ok-lah, semoga tidak terlalu lama, sang aktor, aktris, sutradara, dan peran pendukung dapat melengkapi halaman weblog ini. Semoga. Jayalah Indonesia, yang Luak Limapuluah ada didalamnya.

by : Syarah – Madani Payakumbuh

Ngalau Seribu Harau …betapa saya kangen sekali ingin kesana lagi dan bisa ketemu Datuak Suar:)

Untuk itulah, atas ide dari beberapa teman (dan berdasarkan berbagai komentar yang saya baca dari rekan-rekan yang telah mengakses weblog ini), kami bermaksud untuk membuat film dokumenter tentang Ngalau Seribu dan Datuak Suar yang merupakan tokoh pelestarian alam di Lembah Harau. Beberapa proses telah kami lakukan dan tentu ide ini membutuhkan dukungan dari teman-teman semua yang pernah dan telah berkecimpung dalam pelestarian alam di Ngalau Seribu, dan tentu saja pernah bersentuhan, berkomunikasi, bahkan nginap di rumah Datuak Suar dan keluarganya. Kami ingin agar film ini bisa menjadi tonggak untuk dimulainya proses kegiatan pelestarian alam yang lebih tertata di Lembah Harau khususnya di Ngalau Seribu.

Adapun film dokumenter khusus tentang Datuak Suar sendiri tentunya dimaksudkan agar kita dapat meneladani kiprah dan peran beliau dalam melestarikan alam di Ngalau Seribu dan Lembah Harau pada umumnya. Mumpung beliau masih sehat dan dapat bercerita pengalama beliau, kami ingin membuat film ini. Kami harapkan teman-teman semua yang concern pada Ngalau Seribu Harau dan sayang dengan Datuak Suar untuk membantu kami. Dalam berkomunikasi selanjutnya, silakan teman-teman mengontak Syaiful Rahman (LSM Madani dan koordinator FPTI Payakumbuh ) di 0812 676 1636.

Terima kasih atas perhatian dan dukungannya.

Salam Ngalau Seribu Harau
Early Rahmawati

Nagari Ngalau Seribu Harau adalah salah satu keindahan yang dimiliki oleh Indonesia, tepatnya di wilayah Luhak Lima Puluh Propinsi Sumatra Barat dan untuk saat ini masuk dalam wilayah Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota (sekitar satu jam perjalanan dari Kota Bukittinggi ke arah Kota Payakumbuh, lokasi kota terdekat dari daerah ini)

Jika Anda datang ke Ngalau Seribu Harau, dijamin Anda akan terpesona dengan keindahan atas ciptaan Tuhan yang membuat kita merasa sangat kecil, tidak ada apa-apanya. Dengan tebing-tebing yang tinggi menjulang, itulah Lembah Harau yang terkenal. Dan nun jauh setelah kita melewati tebing-tebing itu…masih ada keindahan lain yang memukau, dengan pemandangan sawah hijau dan perkampungan sederhana dikelilingi tebing-tebing, Anda akan merasa seolah menyatu dengan alam. Di sanalah kami mengelola berbagai kegiatan untuk menempa diri dan mempererat silaturrahim dengan menggunakan metode yang mendekatkan diri dengan alam. Outbound, tracking, berkemah, dan mencoba menerapkan pertanian yang ramah lingkungan. Mencoba memperkenalkan seni budaya dan pembauran dengan masyarakat di luar Nagari Ngalau Seribu dengan berbagai bentuk kesenian, mendokumentasikan untuk memelihara keanekaragaman hayati dan berbagai kegiatan yang bermanfaat agar kita lebih mengenal alam dan terdorong untuk menjaganya demi keberlangsungan harkat dan martabat manusia.

Jika Anda tertarik untuk mendatangi dan bermaksud melakukan berbagai kegiatan di lokasi Nagari Ngalau Seribu di Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatra Barat, silakan Anda mengontak kami : Early (onearly@gmail.com) – 0811 339 426 dan atau Syaiful Rahman (madani_pyk@yahoo.co.id) – 0812 676 1636

Berbagai input dan saran sangat kami harapkan dari Anda semuanya.

Terima kasih atas perhatiannya
Pengelola

Pembauran Budaya

Pembauran Budaya

Pembauran Budaya

Pembauran Budaya

Pembauran Budaya

Pembauran Budaya

Halaman Berikutnya »