Ada papan ini sekarang, yang menandakan inilah pesanggarahan yang harus disinggahi jika kita atau kami semua ingin menjelajah Ngalau Seribu di Kec. Harau Kab. Lima Puluh Kota. Ya, pesanggrahan sederhana milik Datuk Suar dan Nenek Suar yang selalu menerima semua orang dengan segala kesederhanaannya dan ketulusannya.

Cita-cita yang luhur dari Datuk Suar yang tanpa meminta imbalan ‘resmi’ dari para penjelajah yang ingin menggali informasi atau sekedar untuk ngobrol sambil makan siang dengan menu sederhana (apalagi kalau bukan sambal balado khas Minangkabau dan ikan yang dipancing langsung dari kolan di pesanggrahan ini), ternyata membuat kangen kami para pendatang yang jauh ini untuk kembali kesana.

Bahkan bukan cuma orang Indonesia saja yang kangen dengan suasana itu, tapi juga para penjelajah dari luar negeri yang sudah terpikat hatinya dengan alam Ngalau Seribu yang mempesona. Dan saya, setelah empat tahun berselang tidak mengunjungi pesanggrahan ini jadi merasakan keindahan yang luar biasa karena telah diberikan kesempatan dan umur untuk bisa berbincang dan bercanda lagi dengan Datuk dan Nenek yang memang usianya sudah semakin menua, yang tentu saja alhamdulillah masih tetap menjaga keimanan yang kuat pada Sang Maha Kuasa.

Kekaguman kami para orang-orang yang lebih muda dibanding beliau adalah semangatnya yang masih membara, yang masih kuat untuk melayani kami para tamu yang tentu saja juga akhirnya merasa tidak dianggap tamu tapi dianggap keluarga oleh beliau berdua. Dengan cara dan keakraban yang kami bangun selama ini mudah-mudahan ikatan diantara kami untuk salaing menjaga hubungan baik, komitmen untuk melestarikan alam dan tentu saja bagi para pengunjung pun hendaknya mengerti keadaan beliau yang harus dihargai dan dihormati ketulusannya dengan memberikan kontribusi apapun (sesederhana apapun) kepada mereka sekeluarga.

Tetapi, kembali ke wilayah Luak Lima Puluh ini memang sangat menyenangkan bagi saya, meski harus berjibaku di sela-sela sempitnya waktu karena harus kembali ke Jerman. Bahkan acara ngobrol bareng pun disela dengan hebohnya pertandingan rally off road yang melintasi pesanggrahan pada saat itu hehe…

Di tengah ramainya suasana kampung yang biasanya tenteram itu, si kucing tetap tenang dalam tidurnya…

Anak-anak pun tetap bermain rakit di kolam yang luas penuh ikan itu sambil berenang dan berloncatan ke kolam…

Juga tanaman-tanaman di sekitar pesanggarahan yang mulai berbuah seperti rambutan, cabe, nanas merah, dan duriah yang jatuh pun membuat suasana menjadi tambah menyenangkan !! :)

Terima kasih Datuk dan Nenek yang selalu menerima kami dengan tangan terbuka, semoga kami bisa meneruskan cita-cita untuk melestarikan alam dan mampu memberikan yang terbaik dari apa yang kami punya untuk kesejahteraan masyarakat kampung Ngalau Seribu yang indah tak terkira ini..sampai jumpa lagi !!!

PS. psssstttt, tapi rasanya ngga seru ya kalo ngga ditampilan foto durian yang bikin saya kekenyangan sepanjang hari di Luak Lima Puluh plus enaknya lemang yang khusus disiapkan Bang Mul yang baik hati !! Juga tentunya terima kasih tak terhingga bagi Pak Syaiful, Mbak Frida, dan Dek Ryan yang menerima saya seperti keluarga serta kawan-kawan yang datang diskusi malam harinya meski suara saya agak serak hehe…plus teman-teman dari komunitas fotografer di Payakumbuh (Bang Anto dkk) plus si Syech yang begitu inginnya menunjukkan kebunnya yang penuh buah durian membuat kami kesal plus ketawa karena kejadian-kejadian yang menakjubkan di sepanjang jalan yang wuiihhhh sangat ‘hebat’, juga Fajar yang bela-belain datang untuk ngobrol sambil ngabisin lemang hihihi…semuanya itu telah membuat hari-hari saya di Luak Limapuluh menjadi semakin indah dan penuh kenangan :) Sekali lagi terima kasih !!

Salam kangen dari Karlsruhe Germany !!! :)